Jumat, 01 Juni 2012

You, me and flowers

Aku dan kamu punya kegemaran yang sama. Kita sama sama suka membaca dan melukis. Sering kita di sore hari di bawah rindangnya pepohonan di taman duduk berdua, kamu membaca dan aku melukis. Kita asyik dengan dunia kita berdua. Di lain kesempatan kita melakukan hal sebaliknya, aku membaca dan kamu melukis. Semuanya biasa kita lakukan bersama-sama. Sejak kita kecil, hingga beranjak dewasa.

Kamu begitu ramah, dan baik, cenderung romantis dan selalu bisa membuat aku tersenyum bahkan tertawa terbahak-bahak. Kadang-kadang kamu pun menuliskan puisi untukku, setiap aku mendapatkan kertas berwarna-warni dengan tulisan dari tangganmu, rasanya tubuhku ini meleleh lalu menguap dan tidak ada lagi. Rasanya senang sekali.

Hingga suatu hari aku melihat kamu bersama seorang wanita. Dengan wajah riang kamu mengenalkan dia padaku. Kamu bilang, dia adalah teman kuliahmu. Namanya Bunga. Saat aku bersalaman dengan Bunga, tahukan kamu kalau tiba-tiba ada perasaan aneh menyusup ke dalam dadaku. Ini bukannya aku yang berpikiran negatif tentang seseorang tapi ini hanya perasaan aneh yang aku sendiri pun tidak paham.

Esoknya, aku melihat kamu lagi dengan Bunga. Kalian duduk di bawah pohon, di taman, tempat biasa aku dan kamu menghabiskan sore kita. Saat itu kamu sedang melukis, melukis wajah Bunga. Aku tak suka melihatnya, lalu aku pergi sebelum kalian melihat aku.

Selama beberapa hari kita tidak bertemu. Aku coba fokuskan perhatianku pada hal lain, semantara dirimu tak pernah kelihatan kecuali saat bersama Bunga.

Suatu sore, kamu datang ke rumahku, mengajakku keluar. Aku mau, lalu kita mengobrol di bawah pohon kita. Kita mengobrol banyak, obrolan kita seru sekali. Padahal baru beberapa hari tak bertemu tapi rasanya ini sudah seperti seribu tahun, aku kangen kamu. Sampai akhirnya kamu katakan padaku, ada seorang gadis yang kamu cintai. Kamu menceritakan dia dengan wajah ceria, aku pikir kamu benar-benar jatuh cinta! Setelah itu kita tak banyak bicara sampai kamu mengantarku pulang.

Dalam kamarku aku menangis, ini sudah hampir tengah malam dan aku masih bersedih. Aku merasa ini penghianatan yang sangat besar. Atau mungkin aku yang terlalu bodoh. Aku salah mengartikan antara persahabatan dan cinta. Aku merasa ditolak dan ditolak itu sakit rasanya.

Aku melihat kamu lagi, kamu bersama Bunga. Aku benar-benar tak ingin melihat kalian berdua. Apalagi setelah aku mengetahui perasaanmu padanya. Aku memilih menghindar. Tak mengangkat teleponmu, tak membalas pesanmu. Aku harus bisa tidak peduli padamu lagi karena aku sedang sakit hari.

Ini Sabtu malam, aku hanya sendirian di rumah. Saat kudengar pintu rumah diketuk aku membukanya, aku tak pernah menyangka itu kamu. Aku bilang kamu tidak boleh masuk karena saat itu tidak ada siapa pun di rumah. Lalu kamu menarik tangganku dan kita duduk di teras. Ternyata kamu sadar kalau aku menghindar. Kita bicara berdua, dipayungi langit dan bulan purnama. Kamu menatapku dan meminta aku untuk jujur. Rasanya ini seperti mau mati. Aku katakan padamu apa yang aku rasakan. Aku merasa kecewa, aku merasa ditolak. Dan air mata hampir saja menetes.

Kita diam untuk beberapa saat. Lalu kamu tersenyum. Senyum yang berbeda dari biasanya. Aku merasa sangat malu. Mengapa semuanya harus aku katakan?! Kamu tertawa dan aku semakin malu. Kemudian kamu berbisik, "kamu cemburu sama Bunga?"
Aku diam.
"kamu itu jangan sok tahu deh, cewek yang aku suka itu bukan Bunga!"
Aku kanget, dan penasaran.
"Rugi kamu cemberut terus, kamu tau… orang itu kamu. Bukan Bunga atau yang lain. Coba dong senyum, dari tadi kamu judes banget."

Oh, ternyata begini rasanya tak jadi ditolak. Kali ini aku meneteskan air mata tapi, aku bilang padamu kalau aku ngantuk dan perlu tidur. Seperti tadi kamu hanya tersenyum sambil terus menatapku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar