Selasa, 12 Juni 2012

Keseimbangan Otak Kanan dan Kiri

       Seperti kita ketahui bersama otak kita ini – otak manusia – oleh kebanyakan orang dibagi menjadi dua bagian yaitu otak kanan dan otak kiri, secara ilmiah katanya, dan gue termasuk ke dalam kebanyakan orang itu. Konon katanya kenapa otak kita yang merupakan karunia Allah SWT ini kita bagi menjadi dua bagian adalah karena dua bagian otak tersebut memiliki fungsi yang berbeda.
       Otak kanan biasa diidentikkan tentang kreatifitas, dan memang benar fungsi dari otak kanan ini adalah untuk mengurusi proses berpikir kreatif manusia, contohnya adalah kemampuan komunikasi (lingusitik). Cara kerja otak kanan ini biasanya tidak terstruktur, dan cenderung tidak memikirkan hal-hal yang terlalu mendetail. Contoh orang yang mengandalkan otak kanannya dibandingkan otak kirinya adalah seniman.
       Sedangkan otak kiri biasa diidentikkan dengan kecerdasan analitik. Maksudnya otak kanan kita ini terkait dengan kemampuan matematis dan kemampuan berpikir sistematis seseorang. Contohnya kemampuan menyelesaikan soal matematika. Cara kerja otak ini sangat rapi, terstruktur dan sistematis. Biasanya otak kiri ini sangat bermanfaat saat digunakan untuk memahami hal-hal yang kompleks dan perlu pemikiran yang mendetail. Orang yang biasanya lebih mengandalkan otak kiri adalah seorang peneliti atau scientist.
       Tapi hati-hati jangan terlalu memporsir kerja salah satu bagian otak saja. Karena mungkin akan menyebabkan kerja batian otak yang satunya tidak optimal. Gw suka menyebutnya artropi otak kanan atau artropi otak kiri. Yah, setidaknya hal itu yang pernah gue rasakan. FYI istilah artropi biasanya digunakan untuk pengecilan otot yang jarang dipakai.
       Mau artropi otak kanan maupun artropi otak kiri pernah gue alamin. Dua kejadian itu gue alamin selama hidup gue. Gue coba ceritain yang artropi otak kanan dulu, soalnya itu yang paling lama. Sejak gue SD kayaknya gue udah mengidap penyakit ini. Orang yang artropi otak kanan biasanya disebabkan otak kirinya yang terlalu dominan. Ciri-cirinya adalah pertama dia pinter banget matematika atau pelajaran-pelajaran yang sifatnya sistematis. Kedua orangnya biasanya rada-rada nggak gaul dan biasanya emang agak takut untuk bergaul. Ketiga lebih cenderung menyukai hal-hal yang berbau teknis dan eksak ketimbang berpikir kreatif. Kalau loe mempunyai ciri-ciri tersebut hati-hati, loe udah terjangkit artropi otak kanan. Gue sendiri mengalami hal ini sejak SD sampai gue lulus SMA dan kuliah di Fasilkom UI semester ke-3.
       Sejak semester ke-4 gue udah mulai gerah dengan menjadi orang yang nggak gaul. Sedikit demi sedikit gue mulai meningkatkan kekuatan otak kanan gue. Tapi lagi-lagi gue nggak hati-hati karena gue terlalu asik dengan meningkatkan kemampuan otak kanan gue, gue melupakan si otak kanan, hal ini ditandai dengan semakin turunnya IP gw di kampus yang tadinya 3.46, nyaris cum laude kan, sekarang sisa tinggal 3.25, parah banget kan. Ciri-ciri lain orang yang terkena artropi otak kiri adalah biasanya orangnya males berpikir hal-hal yang mendetail dan cenderung suka yang garis-garis besar saja. Satu lagi ciri-ciri lain adalah biasanya orang yang terkena artropi otak kiri lebih cenderung suka tidur (banyak tidur)

otak kiri dan otak kanan
       Cukup banyak artikel yang membahas mengenai “perkembangan Otak Kiri dan Otak Kanan”, tetapi banyak pembaca yang belum mengetahui apa pengaruh otak kiri dan otak kanan pada cara berpikir.
       Otak Kiri bekerja untuk mengatur kemampuan seseorang pada nalar, tulisan, berhitung dan berlogika. Kerusakan pada otak kiri dapat berakibat gangguan ingatan jangka pendek, berbicara dan logika matematika. Maka, untuk mempertahankan otak kiri supaya bekerja dengan baik, kita dapat bermain puzzle, belajar berhitung atau ilmu pasti lainnya.
      Otak Kanan mempunyai fungsi berpikir kreatif dan biasanya memberikan kemampuan seseorang untuk berkhayal, mencurahkan emosi, membedakan warna, dan ilmu ruang. Otak kanan mempunyai kemampuan untuk menyimpan memori jangka lama. Maka itu, apabila seseorang kena penyakit stroke atau tumor otak, maka yang akan terganggu adalah kemampuan visual dan emosi. Untuk menjaga ketajaman otak kanan, maka kita perlu mendengarkan atau memainkan musik.
      Pelajaran di sekolah formal (TK, SD, SMP dan SMA) umumnya me-aktifasi OTAK KIRI. Bagaimana tidak, lihat saja kurikulum sekolah kita. Pelajaran Matematik atau ilmu pasti mempunyai porsi yang lebih banyak daripada pelajaran lainnya. Belum lagi pelajaran yang harus menghafal, juga merupakan pelajaran yang me-aktifasi berpikir secara logis.
      Beberapa sekolah yang cukup bagus di negeri ini, hanya memberikan test Matematika untuk masuk SMP dan SMA. Begitu pentingnya pelajaran Matematik bagi sekolah ini dan mereka yakin bahwa murid yang jago matematik, nalar pikiran mempunyai dasar yang kuat dan akan mudah untuk mempelajari pelajaran IPS (tidak sebaliknya yang mana murid IPS tidak akan bisa belajar ilmu pasti dengan baik).
Dengan pelajaran di sekolah yang lebih me-AKTIFASI OTAK KIRI, ada BAHAYA LATEN yang bisa mengancam, yaitu otak yang kurang seimbang, terutama pada OTAK KANAN. Lemahnya OTAK KANAN menyebabkan anak berbicara kasar dan TIDAK KO_OPERATIF & KREATIF pada cara berpikirnya - dalam hal ini anak TIDAK mempunyai EQ (emotional intelligent). Sebagai sekolah musik yang telah mengajar berbagai macam sifat murid, kami sangat menyayangkan apabila bertemu dengan anak pandai/pintar, tetapi tidak mempunyai perasaan atau sangat kasar sekali dalam berkata.

      Salah satu solusi untuk me AKTIFASI OTAK KANAN adalah memberikan anak PENDIDIKAN MUSIK KLASIK. Pada saat belajar musik klasik, anak harus membaca not balok, dan ini berarti dia harus menghitung (karena tiap not balok ada harga ketukannya). Pada waktu memainkan musik, anak harus mengetahui dinamik dari lagu. Sebagai contoh, anak harus dapat memainkan lagu dengan “Piano” (lembut) atau “Forte” (keras) secara silih berganti. Dia harus bisa memainkan lagu dengan jelas apabila ada tanda “Crescendo” (dari halus makin keras) atau “Decrescendo” (dari keras ke halus). Ada juga teknik bermain secara “Legato” (menyatukan not menjadi suatu kesatuan) atau “Staccato” (memainkan not dengan terpatah patah). Hal ini tentunya membutuhkan dan me-aktifasi konsentrasi di OTAK KANAN, karena harus dirasakan (FEEL), bukannya di pikir (THINK).
      Selain itu, memainkan alat musik telah dibuktikan me-aktifkan hubungan saraf mata dan motorik. Sewaktu membaca not balok, mata harus melihat semua tanda not, kemudian masuk ke otak dan di proses, kemudian otak memerintahkan otot motorik pada lengan dan jari untuk memainkan musik. Selain itu, indera pendengaran harus juga aktif untuk membedakan dinamik dari lagu tersebut.
       Dengan contoh diatas, anda sudah tentu percaya bahwa pendidikan musik memberikan solusi yang komprehensif bagi seimbangnya otak kiri dan kanan, bahkan me-aktifasi semua saraf (indera penglihatan, pendengaran dan motorik).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar